Ini Kronologis Peristiwa 3 Nelayan yang Dihantam Gelombang Besar

170
gelombang tinggi di laut
Ilustrasi gelombang tinggi | Ist/PROGRES BS

PROGRES.ID, MANNA – Tiga nelayan Pasar Manna dan satu perahu dihantam gelombang besar pada Kamis pagi (20/10/2016). Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun ketiganya mengalami luka-luka dan kerugian ditaksir mencapai Rp 20 Juta.

Baca: Perahu Terbalik di Tengah Laut, 3 Nelayan Pasar Manna Berhasil Selamat

Peristiwa ini bermula saat hari masih gelap, ketiga nelayan ini, yakni Jarhan (40), Ega (35) dan Dendi (17) berangkat melaut. Sekitar satu kilometer perahu melaju dari Muara Sungai Air Manna ke tengah laut, tiba-tiba ombak besar menghadang mereka dan langsung menghantam perahu.

“Ombaknya sangat besar, mungkin sebesar rumah. Ombak itu pecah di tengah, sehingga tak bisa dilalui perahu kami,” ungkap Ega yang diamini Jarhan dan Dendi.

Hantaman ombak itu, lanjut Ega, langsung membuat perahu terbalik dengan posisi tertelungkup. Sedangkan mereka bertiga ikut tercebur ke dalam air laut. Beruntung tubuh mereka tidak ditimpa badan perahu.

“Perahu terbalik dengan posisi putar arah karena digulung ombak. Jadi kami dan alat di dalam perahu semuanya jatuh, kami berusaha langsung menyelam agar tak tertimpa perahu,” sambung Ega.

Setelah gelombang tinggi itu berlalu, mereka mendapati semuanya sudah berantakan dan mengapung di tengah laut. Terlihat jelas perahu yang mereka bawa posisinya sudah tertelungkup, alat tangkap ikan seperti pancing dan jaring sudah tidak diketahui keberadaannya. Sedangkan mereka bertiga bertahan di tengah laut dengan cara berpegang ke badan perahu.

“Kami luka-luka, saya luka di tangan karena terkena seng saat berpegang di kapal. Soalnya waktu berada di tengah itu, perahu terus diombang-ambingkan gelombang laut,” tuturnya.

Setelah melihat kondisi laut mulai tenang, Jarhan dan Dendi memutuskan berenang ke tepian dengan menggunakan jerigen. Ega saat itu masih bertahan di tengah laut berpegangan perahu yang terbalik.

Setelah dua jam berlalu, Ega memutuskan menyusul berenang ke tepian pantai. Saat itu, Ega mengaku tubuhnya sudah lemas.

“Saat sudah dekat dengan tepi pantai, tubuh saya terasa sudah lemah, kaki saya sudah keram. Saya coba panggil orang di tepi untuk meminta di lemparkan jerigen agar bisa menjadi pelampung, Tapi tak ada yang mendengar. Akhirnya, saya pasrah saja, saya coba terus menepi dan beruntung saya masih bisa sampai ke tepi, nyawa saya pun selamat,” cerita Ega yang mengaku telah beristri.

Setelah berhasil mendarat dan merasa tubuh mereka pulih, ketiganya kemudian mencari badan perahu yang mereka bawa. Setelah ditunggu beberapa waktu, perahu mereka ditepikan ombak di ujung pantai Pasar Bawah yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari Muara Sungai Air Manna. Sedangkan satu jaring ditemukan warga di bawah taman remaja Kelurahan Belakang Gedung.

Jarhan yang merupakan nelayan tertua diantara ketiganya mengaku baru kali tersebut mengalami kejadian yang nyaris merenggut nyawanya.

“Saya sudah puluhan tahun menjadi nelayan. Baru kali ini mengalami musibah seperti ini, baru itu saya lihat gelombang setinggi itu dan membuat perahu karam,” ungkap Jarhan.

Cuaca Tak Terprediksi

Sebelum pergi melaut, ketiganya sudah mengamati cuaca. Berdasarkan pengamatan mereka cuaca saat itu cocok untuk melaut dan mencari ikan. Tak ada mendung, angin atau pun hujan.

“Sebelum melaut kami sudah lihat cuaca, saat itu mendukung sekali. Tidak mendung, hujan atau adanya angin. Sama sekali kami tak menduga bakal ada gelombang setinggi itu,”  kata Jarhan.

Ketiganya mengaku trauma, namun mereka tak akan berhenti melaut karena nelayan sudah menjadi profesi mereka.

“Taruma sebenarnya, paling kita istirahat sebentar. Kami tetap akan melaut karena itu sudah menjadi mata pencarian kami,” tandas Jarhan.(sar)

LEAVE A REPLY